Feeds:
Tulisan
Komentar

Muhasabah merupakan senjata yang cukup ampuh untuk menjaga konsistensi dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. Al-Hasan Al Basri rahimahullah berkata, “Seseorang senantiasa baik apabila muhasabah menjadi keinginannya”. Rasanya kita pun menyadari, satu bulan pasca bulan ramadhan adalah waktu yang cukup bagi kita untuk mengevaluasi diri dalam bentuk refleksi ketakwaan kita terhadap pribadi takwa yang sebenarnya. Refleksi ketakwaan ini dirasakan cukup efektif, agar kedepannya kita lebih punya jalan dan koridor yang jelas sehingga derajat ketakwaan tertinggi dapat diraih oleh masing-masing diri kita. Dalam hal ini, Allah ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Q.S. Az-Zariyat : 15-19)

Nampaknya, tidak cukup sulit bagi kita untuk memahami sifat orang-orang yang bertakwa di dunia dari ayat tersebut. Tidak sulit bagi kita untuk memahami bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa berbuat baik. Yakni orang yang senantiasa berusaha untuk menggapai dan menyadang sifat ihsan, yang merupakan puncak tertinggi dalam amal perbuatan. Sifat yang membuat  para muhsin (orang yang memiliki sifat ihsan) lebih mengutamakan kebutuhan orang lain dibandingkan kebutuhan dirinya sendiri. Sifat yang menjadikan orang yang memiliknya memperlakukan orang lain lebih baik dari perlakuannya terhadap dirinya sendiri.

Ayat di atas juga tidak begitu menyulitkan kita untuk memahami bahwa orang bertakwa adalah orang yang sedikit tidur di waktu malam tentunya hanya untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Mereka senantiasa memohon ampunan pada waktu al-ashar, yakni seperenam malam terakhir. Dan mereka juga senantiasa menginfakkan harta mereka atas konsekuensi keyakinan adanya hak orang miskin dalam harta yang mereka miliki.

Tentunya kita semua menyadari bahwa ciri-ciri orang bertakwa yang disampaikan Allah SWT. dalam ayat tersebut bukan hanya untuk memberikan informasi biasa kepada kita. Ciri-ciri tersebut tentunya untuk kita jadikan refleksi diri kita akan sejauh mana pribadi kita, yang tentunya mengharapkan surga-Nya, mendekati pribadi orang-orang bertakwa yang disampaikan Allah. Refleksi inilah yang kemudian kita harapkan dapat menjaga dan meningkatkan derajat ketakwaan yang kita miliki saat ini. Ketakwaan yang tentunya kita harapkan mampu menjadikan kita tergolong orang-orang yang mendapatkan surga Allah SWT kelak. Ketakwaan yang tentunya pula kita harapkan menjadikan kita tergolong orang-orang yang selalu medapat ridho Allah dan sekalipun tak akan mendapatkan murka-Nya di surga yang dijanjikan-Nya. Wallahu’alam.

O, Pahlawan Negeriku

Di masa pembangunan ini”, kata Chairil Anwar mengenang Diponegoro, “Tuan hidup kembali. Dan bara kagum menjadi api“.

Kita selalu berkata jujur kepada nurani kita ketika kita melewati persimpangan jalan sejarah yang curam. Saat itu kita melewati persimpangan jalan sejarah yang curam. Saat itu kita merindukan pahlawan. Seperti Chairil Anwar tahun itu, 1943, yang merindukan Diponegoro. Seperti juga kita saat ini. Saat ini benar kita merindukan pahlawan itu. Karena krisis demi krisis telah merobohkan satu per satu sendi bangunan negeri kita. Negeri ini hampir seperti kapal pecah yang tak jemu-jemu dihantam gunungan ombak.

Di tengah badai ini kita merindukan pahlawan itu. Pahlawan yang, kata Sapardi, “telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menyerah”. Pahlawan yang, kata Chairil Anwar, “berselempang semangat yang tak bisa mati.” Pahlawan yang akan membacakan “Pernyataan” Mansur Samin:

Demi amanat dan beban rakyat
Kami nyatakan ke seluruh dunia
Telah bangkit di tanah air
Sebuah aksi perlawanan
Terhadap kepalsuan dan kebohongan
Yang bersarang dalam kekuasaan
Orang-orang pemimpin gadungan


Maka datang jugalah aku ke sana, akhirnya. Untuk kali pertama. Ke Taman Makam Pahlawan di Kalibata. Seperti dulu aku pernah datang ke makam para sahabat Rasulullah saw di Baqi’ dan Uhud di Madinah. Karena kerinduan itu. Dan kudengar Chairil Anwar seperti mewakili mereka:

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Tulang-tulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukan tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid? Ataukah tak lagi ada ibu yang mau, seperti kata Taufiq Ismail di tahun 1966, “Merelakan kalian pergi berdemonstrasi..Karena kalian pergi menyempurnakan..Kemerdekaan negeri ini.”

Tulang belulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah, seperti kata Sayyid Quthub, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”

Tidak! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata: jadilah pahlawan itu.

~Anis Matta~

Mereka Umat Terbaik

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….” (Q.S. Ali-‘Imran : 110)

Saudaraku, mari sejenak kita perhatikan mereka, tentang sekumpulan orang yang kemudian disebut umat terbaik oleh Allah. Mereka sangat mencintai Allah dan Allahpun mencintai mereka. Mereka menyeru kepada Allah, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar kapanpun dan dimanapun mereka berada. Mereka sangat khawatir atas laknat Allah atas mereka. Kekhawatiran atas konsekuensi keyakinan mereka terhadap firman Allah SWT.

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.” (Q.S. Al-Baqoroh : 159)

Saudaraku, mereka mengamalkan ilmu atas diri mereka. Khawatir pula mereka dibenci oleh Allah atas seruan yang mereka lakukan. Sekali lagi, Kekhawatiran atas konsekuensi keyakinan mereka pula terhadap firman Allah SWT.

“Hai, orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Q.S. Ash-Shaaff : 2-3)

Saudaraku mereka beriman kepada Allah dan merasakan kelezatannya. Gemetar hatinya ketika disebut nama Allah. Bertambah imannya ketika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka. Mereka senantiasa bertawakal hanya kepada Allah. Mereka dirikan shalat dan berada dalam naungannya dimanapun dan dalam kondisi apapun. Mereka rihdo menafkahkan sebagian rizki yang mereka dapatkan dari Allah. Di sisi Allah, mereka mendapatkan beberapa derajat yang tinggi. Mereka memperoleh ampunan lagi tambahan nikmat yang mulia dari Rabbnya. Mereka ridho Allah menjadi tuhan mereka atas konsekuensi keimanannya. Mereka ridho atas perintah dan larangan apapun dari Rabbnya. Atas konsekuensi keimanan itu pula, masing-masing dari mereka mencintai sesamanya karena Allah, ikhlas karena-Nya. Sehingga tak ada kekurangan di antara mereka dalam kehidupannya. Sehingga senang hati setiap orang ketika dekat dengan mereka. Atas konsukuensi keimanan itu pula, mereka benci ketika mereka masuk dalam kekafiran sebagaimana mereka benci ketika diri mereka masuk ke dalam api neraka.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” (Q.S. Al-Anfal : 2-4)

Tiga hal yang apabila seseorang dapat merealisasikannya, maka ia akan merasakan lezatnya keimanan, yaitu; 1. Menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai sesuatu yang paling dicintainya dari selainnya, 2. Mencintai seseorang, tiada lain mencintainya kecuali hanya karena Allah, 3. Benci apabila dirinya terjerumus kembali kepada kekafiran seperti kebenciannya apabila dijerumuskan ke dalam api.”(H.R Bukhari dan Muslim).

Saudaraku, Semoga kita didekatkan dengan sifat-sifat mereka dan bisa menjadi bagian dari mereka. Amiin. Wallahu’alam

Mari kita berhenti sejenak untuk mensyukuri keimanan kita. Keimanan yang seharusnya menyebabkan kita melakukan amal saleh yang diperintahkan. Keimanan yang seharusnya membuat kita senang karena melakukan amal yang baik dan susah karena melakukan amal yang buruk. Sebagaimana yang pernah rasulullah katakan ketika beliau ditanya tentang apa itu iman, beliau berkata Apabila amal baikmu membuatmu gembira, dan amal burukmu membuatmu susah (sedih), berarti engkau adalah seorang mukmin (orang beriman).”(H. R. Hakim)

Saudaraku, sekarang mari kita melihat keimanan salah seorang saudara kita, Bilal Bin Rabbah namanya. Nampaknya tubuhnya yang gelap belum lepas dari benak kita dalam mengingatnya. Ia disiksa keras oleh Umayyah bin Khalaf al-Jamhi sebelum dimerdekakan oleh Abu Bakar. Lehernya diikatkan dengan tali, sesekali dikencangkan, kemudian diseret tubuhnya oleh anak-anak kecil mengelilingi lereng-lereng mekkah. Tubuhnya kerapkali dijemur di bawah terik matahari dan ditindihkan batu yang besar di dadanya. Akan tetapi saudaraku, sekalipun demikian ia tetap berkata ‘Ahad, ahad’.

Selanjutnya kita ingat pula sejenak kisah saudara kita Sayyid Quthb. Mungkin wajahnya senantiasa masih terbayang di kepala kita. Ia pernah dimasukkan ke dalam penjara. Ia dipukul, dicambuk, dan disiksa sampai ia tak mampu lagi untuk berdiri, seketika didatangkan di dalam penjaranya sekawanan anjing lapar yang merobek-robek punggungnya. Tetapi dalam kondisi yang mencekam itu, Ia menghadapi maut dengan senyum di bibir dan lisan yang selalu basah mengingat Allah SWT.  Sampai pada suatu ketika saudarinya Aminah Quthb datang mengunjunginya, menyampaikan pesan, menyodorkan notes kecil dan sebuah pulpen dari sakunya, hanya untuk sekadar mengajukan permohonan maaf, akan tetapi yang keluar dari Sayyid Quthb adalah kalimat yang menggetarkan setiap jiwa yang mendengarnya saat itu, Ia berkata, “Telunjuk yang senantiasa menyaksikan keesaan Allah dalam setiap sholat, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukkan atau menyerah kepada rezim thawaghit.”

Atau mungkin sejenak pula kita perhatikan keimanan seorang wanita sholihah lagi mu’minah.  Siti Hajar namanya. Di hamparan padang pasir yang tandus, ia dihadapkan dengan kondisi yang tak terbayangkan bijaknya keputusannya. Mantap punggung suaminya, ibrahim, meninggalkannya. Seketika muncul pertanyaan darinya kepada suaminya “Yaa Ibrahim, apa yang kau lakukan dengan meninggalkan kami disini?”. Dua kali ia sampaikan, tapi langkah suaminya tetap mantap meninggalkannya. Ketiga kalinya ia sampaikan kepada suaminya “Tunggu! Ibrahim, adakah ini perintah Allah?”. Pertanyaan ini menghentikan langkah, memutarkan tubuh, dan menggerakkan lidahnya kemudian berkata “Ya, ini adalah perintah Allah”. Ini sungguh luar biasa saudaraku, dalam kebingungan, dalam kepanikan, dalam kesusahan, mulutnya, Siti Hajar, bergerak mengatakan “Jika ini adalah perintah Allah, maka sungguh Ia tidak akan menyia-nyiakan kami. Subhanallah saudaraku. Keimanan seperti yang mereka miliki itulah yang kita impikan kehadirannya dalam diri kita. Keimanan yang kita merasa bahagia karena memilikinya, keimanan yang kita merasa kuat karena memilikinya, keimanan yang kita merasa tenang karena memilikinya, dan keimanan yang menyebabkan kita senantiasa beramal soleh karena memilikinya.

Saudaraku, mari kita berhenti sejenak kembali untuk merasakan keimanan kita, untuk merasakan sejauh mana kita merasakan lezatnya keimanan yang mungkin telah cukup lama hadir dalam diri kita. Mari kita memikirkan sejauhmana upaya kita untuk membuat diri kita merasakan kelezatan iman, sejauhmana kita telah berusaha melakukan hal-hal yang disarankan oleh Rasulullah saw. setelah beliau pernah bersabda “Tiga hal yang apabila seseorang dapat merealisasikannya, maka ia akan merasakan lezatnya keimanan, yaitu; 1. Menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai sesuatu yang paling dicintainya dari selainnya, 2. Mencintai seseorang, tiada lain mencintainya kecuali hanya karena Allah, 3. Benci apabila dirinya terjerumus kembali kepada kekafiran seperti kebenciannya apabila dijerumuskan ke dalam api.”(H.R Bukhari dan Muslim). Dan begitu pula dengan sejauhmana upaya kita memperbaharuinya setelah Rasulullah juga pernah menganjurkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, bahwa beliau bersabda, “Perbaharuilah iman kalian.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana cara memperbaharui iman kami, ya Rasulullah?” Rasulullah Saw. bersabda, “Perbanyaklah ucapan La ilahaillallah.” (HR. Bukhari).

Wallahu’alam

Semoga Menginspirasi

Tulisan ini saya buat dalam rangka menyambut mahasiswa baru ITB 2009

Assalamu’alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh..

Saya awali tulisan ini dengan rasa syukur atas nikmat pelajaran yang telah Allah berikan lewat kaum Anshor dan Kaum Muhajirin. Saya awali juga dengan rasa harap akan hembusan rasa itsar dalam jiwa seperti halnya itsar yang telah Allah swt. hembuskan kepada kaum Anshor pada zaman Rasulullah saw. Saya awali juga dengan mengibaratkan kita sebagai kaum Anshor dan Mahasiswa Baru 2009 sebagai kaum Muhajirin.

Dalam surat Al-Hasyr ayat 9 Allah Swt berfirman:
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.”

Saya akhirnya mencoba mencari lebih banyak kisah tentang kaum anshor minimal agar bisa menyemangati saya. Alhamdulillah. Sekelumit kisah tentang mereka pun saya dapatkan. Saya yakin masih banyak kisah-kisah lain dari mereka yang masih berceceran. Hilang karena keterbatasan sejarah.

Kisah pertama yang sangat singkat saya ceritakan dari seorang An-Nu’man Ibn Ajlan Al-Anshari. Ia berkata “Kami pun menyambut kaum Muhajirin seraya berkata, ‘Selamat datang dan hidup bersama kami. Sungguh, kalian akan aman dari kefakiran karena kami akan membagi harta dan rumah kami untuk kalian’.”

Singkat memang kisahnya. Tapi bagi saya kisah itu cukup untuk menyulitkan jiwa ini menjawab, “mampukah engkau memberikan jaminan kepada mahasiswa 2009 seperti halnya jaminan yang diberikan An-Nu’man Ibn Ajlan Al-Anshari kepada kaum muhajirin tersebut?”

Selanjutnya, kisah singkat kedua dari Ummu Ala’. Dia seorang wanita Anshar yang telah dibai’at Rasulullah saw., Ia mengabarkan ke Kharijah Ibn Zaid ibn Tsabit bahwa Utsman ibn Mazh’un tinggal di rumah-rumah kaum Anshar secara bergantian. Bahkan, kaum Anshar sampai mengadakan undian untuk menentukan tempat siapa yang harus ditempati oleh kaum Muhajirin.

Kembali saya sampaikan, bagi saya kisah itu cukup untuk menyulitkan jiwa ini menjawab, “mampukah diri ini seperti dirinya dalam hal pengorbanan ketika mahasiswa 2009 datang nanti?”

Kisah ketiga dari orang terkaya kaum anshor saat itu, Sa’ad Ibn Rabi’ah. Abdurrahman ibn ‘Auf adalah seorang Muhajirin. Suatu ketika Sa’ad berkata kepada Abdurrahman, “Aku adalah orang terkaya dari kaum Anshar. Karenanya aku akan membagi separuh hartaku kepadamu. Aku juga memiliki dua isteri, maka pilihlah mana yang paling menarik untukmu di antara keduanya. Sebutkan namanya, maka aku akan menthalaknya. Jika ‘iddahnya sudah habis, nikahilah dia!”

Tawaran itu dijawab Abdurahman, “Semoga Allah memberkahimu atas keluarga dan hartamu. Namun, cukuplah engkau tunjukkan kepadaku di manakah pasar kalian berada.” Lalu kaum Anshar menunjukkan kepada Abdurrahman pasar Bani Qainuqa. Begitulah, akhirnya Abdurrahman selalu kembali dari pasar itu dengan membawa keuntungan dari berjualan minyak samin dan keju.

Sekali lagi, bagi saya ini cukup untuk menyulitkan jiwa ini untuk menjawab, “Mampukan diri ini seperti Sa’ad dalam hal pengorbanan ketika mahasiswa 2009 datang nanti?

Selanjutnya kisah terakhir dari saya yang cukup panjang dari Ummul A’la Al-Anshari. Beliau meriwayatkan, ketika mendapatkan rampasan perang dari Bani Nadhir, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memanggil Tsabit ibn Qais. “Datangkanlah kaummu kepadaku,” kata Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam Tsabit bertanya, “Kaum Khazraj-kah?” “Seluruh kaum Anshar!” tegas Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Maka Tsabit memanggil suku Aus dan Khazraj. Setelah seluruh kaum Anshar hadir, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memuji Allah dan menyebutkan kebaikan-kebaikan kaum Anshar yang telah memberikan tempat tinggal dan harta benda mereka kepada kaum Muhajirin. Juga tentang sifat mereka yang selalu mendahulukan kaum Muhajirin ketimbang diri mereka sendiri. Lalu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika kalian suka, aku akan membagikan harta yang dititipkan Allah kepadaku dari Bani Nadhir (harta rampasan) ini untuk kalian (kaum Anshar) dan kaum Muhajirin. Adapun bagian kaum Muhajirin adalah untuk mengganti biaya hidup dan tempat tinggal yang kalian tanggung selama ini. Atau, jika kalian setuju, aku akan memberikan bagian mereka semuanya, dan setelah itu mereka harus keluar dari rumah-rumah kalian.”

Mendengar tawaran itu, Sa’ad ibn Ubadah dan Sa’ad ibn Mu’adz berkata, “Ya Rasulullah, engkau bagikan saja semua harta rampasan itu kepada Muhajirin dan biarkan mereka tetap tinggal di rumah-rumah kami seperti saat ini.”

Dan seluruh kaum Anshar yang hadir mengamini ucapan dua orang itu. Mereka berkata, “Kami rela menerima keputusan itu, ya Rasulullah.” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pun berkata, “Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepada kaum Anshar dan keturunannya.”

Lalu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam membagikan semua harta pampasan perang itu secara merata kepada kaum Muhajirin. Adapun kaum Anshar, mereka tidak mendapatkan bagian, kecuali dua orang, yaitu Abu Dujanah dan Sahl ibn Hunaif yang begitu membutuhkan.

Akhirnya, saya pun ditemukan juga dengan salah satu perkataan yang diucapkan oleh kaum muhajirin untuk kaum Anshor. Suatu ketika mereka berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, kami belum pernah mendatangi kaum yang sedermawan dan begitu setiakawan melebihi kaum Anshar. Mereka telah mencukupi kebutuhan hidup kami dan mengikutsertakan kami dalam setiap kegembiraan mereka.”

Saya berharap dalam posisi apapun kita, sebagai pribadi, sebagai panitia PMB-R Pusat ataukah Wilayah, P3R Salman, dan lain sebagainya. Semoga kita dapat mewarisi sifat kaum Anshor tersebut. Dan menjamin serta optimal dalam membuktikan terpenuhinya segala kebutuhan mahasiswa baru 2009 oleh kita. Amiin. Wallahu’alam

Semoga menginspirasi dan selamat menginspirasi

Wassalamu’alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh

Selamat Milad Dam

Assalamu’alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh

Hari sabtu itu terasa hening bagiku. Tak ada yang dirumah kecuali aku. Kakak dan adik-adikku, termasuk engkau, sedang ke sekolah dengan gembira karena hari itu rapor semester genap diberikan kepada seluruh siswa. Hanya aku yang di rumah, ayahku, ayah kita, menggantikan aku ke sekolahku, karena aku mendapatkan surat panggilan kedua setelah surat panggilan pertama pada semester ganjil yang lalu. Hatiku merasa gelisah saat itu. Kegelisahan dan kesunyian itupun membuatku tertidur.

Keramaian rumah setelah kepulangan kakak dan adik-adikku membuatku terjaga dari tidurku. Aku pun bangun dan mencoba keluar dari kamarku. Di bawah pintu kamarku kulihat sebuah rapor semester, dan itulah raporku. Kubuka rapor itu, dan kulihat bahwa aku peringkat 36 dari 40 siswa di kelasku. Aku sedih sekali saat itu. Begitu sedih. Dan aku benci dengan diriku. Kemudian tanpa sengaja terdengar olehku perkataanmu, adikku.

Semester lalu ia peringkat 32, semester ini 36, jadi semester depan 40.”

Perkataan itu entah kenapa begitu menyakitkan bagiku. Aku benci diriku yang sangat bodoh ini. Hari itupun kulewati dengan penuh sedih dan kesal atas diriku sendiri. Aku memang nakal saat itu. Aku sadari itu. Bermain Play Station dan dingdong adalah kegemaranku. Setiap hari kurelakan uang jajan dan ongkosku untuk disimpan agar aku bisa bermain Play Stasion sepulangnya aku dari sekolah. Aku rela jalan kaki pulang-pergi sekolahku ditengah terik matahari demi permainan itu. Sungguh bodoh diriku saat itu dalam pikiranku. Bahkan yang paling bodoh lagi, aku ingat kalau aku sering mencuri uang ibu dan ayahku di lemari untuk bisa bermain dingdong dan Play Station. Jadwal Kursus Bahasa Inggrisku pun kumanfaatkan untuk bermain Dingdong dan Play Station. Sungguh aku sedih dan tak dapat menahan tangisan saat itu mengingat diriku kembali. Apalagi setelah ingat kalau aku dulunya pernah dikenal pintar dan alim oleh masyarakat kita karena aku sering mendapatkan juara dan sering adzan di masjid sebelah rumah kita. Itu terjadi sebelum aku bertemu dengan apa yang namanya Play Station dan Dingdong. “Ya Allah, begitu jauh diriku saat ini darimu”

Kata-kata engkau tadi pun kembali terngiang di telingaku. Aku pun semakin menangis saat itu. Sedih sekali bagiku. Tapi, kurasakan Allah dekat padaku. Aku mendapat bisikan tekad saat itu. Tekad itupun kurasakan saat itu di seluruh tubuhku. Sangat kurasakan. Tekadku yang tak nampak didepanmu adalah akan mengalahkanmu yang saat itu engkau mendapatkan peringkat pertama di sekolahmu.

Setahun kedepan pun aku jalani dengan serius. Aku pamit dengan kawan-kawan sepermainanku. Mereka memang ‘berandalan’. Tapi aku rasakan kalau mereka baik sekali. Mereka baik kepadaku. Mereka tak pernah tawarkan aku untuk merokok apalagi minuman keras, walau mereka sering menggunakannya. Kutinggalkan dunia Play Station dan Dingdong untuk mewujudkan tekadku. Dan Alhamdulillah, peringkat 10 pun aku dapatkan di semester ganjil kelas tiga itu. Tapi aku belum puas. Sangat belum puas. Kembali kuperlihatkan kehebatanku di semester genap, semester akhir SMP, kepadamu. Aku raih nilai terbaik try out ujian nasional di kabupatenku. Walau aku harus tutup sekolah menengah pertama ini hanya pada posisi terbaik ketiga di sekolahku, tapi aku puas dengan nilai UAN ku yang saat itu menjadi nilai terbaik di sekolahku. Aku sangat puas. Itu kupersembahkan untukmu atas kegagalan pikiranmu tentang diriku.

Aku pun dengan percaya diri mengikuti seleksi masuk di SMA terbaik di Lahat saat itu. Akupun lolos seleksi pada posisi terbaik ke-tujuh saat itu. SMA ini sangat bermakna bagiku. Aku kenal jalan terbaikku di sini. Aku kenal jalan yang bagiku begitu indah di sini. Disini, tanpa pengalaman yang cukup, aku ditunjuk untuk menjadi ketua sebuah organisasi di sekolah ini. Organisasi itu bernama DKM. Jujur kuceritakan kepadamu, setiap malam dalam beberapa hari setelah aku ditunjuk, aku menangis. Menangisku dulu hanya karena takut kalau aku akan kalah lagi seperti dulu dalam dunia akademik darimu. Terlebih ketika ku dengar kau begitu pintar di sekolahmu yang dulu menjadi sekolahku. Tapi aku punya kawan-kawan yang selalu menemaniku. Mereka menjadi penghenti airmataku. Mereka menjadi pelipur ketakutanku.

Aku tekadkan diriku untuk dunia akademik dan non-akademikku. Aku tekadkan untuk menjadi terbaik dalam keduanya. Aku tekadkan untuk menjadi yang terbaik di semua aspek. Sekali lagi, saat itu aku tak tahu ini musibah atau rahmat, tapi Allah memberikanku prestasi yang cukup baik di sekolahku di tengah kesibukkan ku mengurusi DKM. Peluang OSN Matematika pun terbuka lebar bagiku dengan keyakinan guru-guruku. Aku rasakan keyakinan dan harapan mereka. Aku rasakan itu. Tapi apa daya, Allah tak berkehendak.

Meraih beasiswa kemitraan pun bagiku begitu dekat. Secara keseluruhan aku memang dikalahkan oleh beberapa orang. Tapi aku yakin kalau aku bisa meraihnya dan mengalahkan teman-temanku yang lain. Dan alhamdulillah aku dapatkan itu. Aku dapatkan beasiswa kemitraan ITB ini dengan perjalanan yang sangat menarik dan bermakna bagiku. Lulus di ITB inipun bagiku merupakan mimpi. Itu tak terbayangkan sedikitpun olehku. Aku pun persembahkan ini salah satunya untukmu. Karena ku tahu kau akan masuk sekolah ini. Aku tutup juga sekolah menengah atas ini dengan peringkat pertama di sekolah. Sekali lagi, itu salah satunya kupersembahkan untukmu, adikku.

Sepeninggalanku di Bandung. Ku dengar kau begitu berprestasi. Ku dengar kau mengikuti OSN Kimia padahal ku ketahu saat itu kau masih duduk di kelas X. Sungguh hebat ku katakan dan kau menang dariku untuk itu. Ke dengar pula bahwa kau lolos seleksi nasional pertukaran pelajar ke Jepang. Dan masih banyak pula ku dengar prestasi-prestasimu di sekolah dari kawan, guru, dan orang lain. Ku katakan kalau kau sungguh hebat adikku.

Adikku, aku belum kalah. Kau tetaplah menjadi kompetitorku sebelum nafasku berakhir. Ku anggap selalu kalau kau adalah sainganku tanpa pernah kau sadari itu. Saingan dalam membahagiakan orang tuaku, orang tua kita. Saingan dalam segala hal kebaikan bagiku. Ku rela kau sukses. Tapi aku akan berusaha lebih sukses dari kesuksesan yang kau capai. Untuk dunia dan untuk akhirat. Kau penyemangatku. Kau inspirasi bagiku. Adikku saat ini kondisi akademikku sungguh menyedihkan. Di hari ulang tahunmu, aka berterima kasih kepadamu atas inspirasi yang kau berikan kepadaku. Di hari ulang tahunmu ini, ku tegaskan kembali tekadku kalau aku akan dapatkan nilai akademik yang jauh dan jauh lebih baik dari saat ini di semester depan. Aku terima tantanganmu di dunia akademik dengan sehat dan ku ajak engkau bersaing juga dalam ranah persaingan baru yang bagiku lebih bermakna. Ku harap engkau mengetahui sendiri dan merasakannya.

Adikku, selamat milad.

Semoga engkau selalu dberikan kemudahan dalam setiap urusanmu.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Tulisan Sebelumnya »